Kamis, 20 Oktober 2011

Akuntansi dan Sistem Informasi

Akuntansi dan sistem informasi

A. Makna Akuntansi Sebagai Informasi

Pernahkah anda mendengar bahwa “akuntansi adalah bahasa bisnis”?. Tahukah anda maksudnya? Dari kalimat tersebut pasti anda memiliki gambaran sedikit tenteng apa itu akuntansi, dan apa kaitannya dengan bisnis. Jika kita artikan kalimat tersebut, akuntansi merupakan bahasa bisnis maksudnya akuntansi adalah representasi dari bisnis yang menggambarkan dan menceritakan bagaimana bisnis itu berjalan, bahasa juga berarti alat yang digunakan untuk menyampaikan informasi. Berarti akuntansi juga merupakan alat untuk menginformasikan keaadaan suatu perusahaan.

Namun menurut American Accounting Association, yaitu lembaga yang paling bertanggung jawab atas pengembangan akuntansi di Amerika Serikat, akuntasi adalah .......suatu proses pengidentifikasian, pengukuran, dan pelaporan informasi ekonomi yang memungkinkan adanya penilaian dan pengambilan keputusan yang jelas dan tegas oleh mereka yang menggunakan informasi keuangan tersebut.

Dari pengertian di atas, terdapat empat proses yaitu input, proses, output, dan pengambilan keputusan:

1. Input atau masukan. Informasi yang digunakan dalam proses input misalnya informasi kegiatan ekonomi (transaksi) perusahaan ataupun organisasi lainnya.

2. Proses. Dalam proses transaksi-transaksi tersebut kemudian diolah atau diidentifikasi, pengukuran, pencatatan, sampai pembuatan laporan keuangan.

3. Output (keluaran). Yaitu berupa laporan-laporan perusahaan ataupun organisasi laiinya yang nantinya digunakan oleh pihak-pihak tertentu.

4. Pengambilan keputusan. Suatu tindakan yang akan dilakukan perlu perencanaan yang matang, salah satunya dengan menggunakan laporan akuntansi/informasi akuntansi untuk menganalisis kemungkinan yang mungkin terjadi hingga bagaimana menghadapi risikonya.

B. Kualitas Informasi Akuntansi

Karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakai. Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) tentang Kerangka Dasar Penyusunan Penyajian Laporan Keuangan, terdapat empat karateristik kualitatif pokok yaitu: dapat dipahami, relevan, keandalan, dan dapat diperbandingkan.

Dapat Dipahami

Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk segera dapat dipahami oleh pemakai. Untuk maksud ini, pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan ketekunan yang wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya dimasukkan dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar pertimbangan bahwa informasi tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh pemakai tertentu.

Relevan

Agar bermanfaat, informasi harus relevan untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi memiliki kualitas relevan kalau dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini atau masa depan, menegaskan, atau mengkoreksi, hasil evaluasi mereka di masa lalu.

Peran informasi dalam peramalan (predictive) dan penegasan (confirmatory) berkaitan satu sama lain. Misalnya, informasi struktur dan besarnya aktiva yang dimiliki bermanfaat bagi pemakai ketika mereka berusaha meramalkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan peluang dan bereaksi terhadap situasi yang merugikan. Informasi yang sama juga berperan dalam memberikan penegasan (confirmatory role)terhadap prediksi yang lalu, misalnya, tentang bagaimana struktur keuangan perusahaan diharapkan tersusun atau tentang hasil dari operasi yang direncanakan. Informasi posisi keuangan dan kinerja di masa lalu seringkali digunakan sebagai dasar untuk memprediksi posisi keuangan dan kinerja masa depan dan hal -hal lain yang langsung menarik perhatian pemakai, seperti pembayaran dividen dan upah, pergerakan harga sekuritas dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo. Untuk memiliki nilai prediktif, informasi tidak perlu harus dalam bentuk ramalan eksplisit. Namun demikian, kemampuan laporan keuangan untuk membuat prediksi dapat ditingkatkan dengan menampilkan informasi tentang transaksi dan peristiwa masa lalu. Misalnya, nilai prediktif laporan laba rugi dapat ditingkatkan kalau pos-pos penghasilan atau beban yang tidak biasa , abnormal dan jarang terjadi diungkapkan secara terpisah.

Materialitas

Relevansi informasi dipengaruhi oleh hakekat dan materialitasnya. Dalam beberapa kasus, hakekat informasi saja sudah cukup untuk menentukan relevansinya. Misalnya, pelaporan suatu segmen baru dapat mempengaruhi penilaian risiko dan peluang yang dihadapi perusahaan tanpa mempertimbangkan materialitas dari hasil yang dicapai segmen baru tersebut dalam periode pelaporan. Dalam kasus lain, baik hakekat maupun materialitas dipandang penting, misalnya jumlah serta kategori persediaan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Informasi dipandang material kalau kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai yang diambil atas dasar laporan keuangan. Materialitas tergantung pada besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai dengan situasi khusus dari kelalaian dalam mencantumkan (omission) atau kesalahan dalam mencatat (misstatement). Karenanya, materialitas lebih merupakan suatu ambang batas atau titik pemisah dari pada suatu karakteristik kualitatif pokok yang harus dimiliki agar informasi dipandang berguna.

Keandalan

Agar bermanfaat, informasi juga harus andal {reliable). Informasi memiliki kualitas andal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation) dari yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat disajikan. Informasi mungkin relevan tetapi jika hakekat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan. Misalnya, jika keabsahan dan jumlah tuntutan atas kerugian dalam suatu tindakan hukum masih dipersengketakan, mungkin tidak tepat bagi perusahaan untuk mengakui jumlah seluruh tuntutan tersebut dalam neraca, meskipun mungkin tepat untuk mengungkapkan jumlah serta keadaan dari tuntutan tersebut.

Penyajian Jujur

Agar dapat diandalkan, informasi harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. Jadi, misalnya, neraca harus menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya dalam bentuk aktiva, kewajiban dan ekuitas perusahaan pada tanggal pelaporan yang memenuhi kriteria pengakuan. Informasi keuangan pada umumnya tidak luput dari risiko penyajian yang dianggap kurang jujur dari apa yang seharusnya digambarkan. Hal tersebut bukan disebabkan karena kesengajaan untuk menyesatkan, tetapi lebih merupakan kesulitan yang melekat dalam mengidentifikasikan transaksi serta peristiwa lainnya yang dilaporkan, atau dalam menyusun atau menerapkan ukuran dan teknik penyajian yang sesuai dengan makna transaksi dan peristiwa tersebut. Dalam kasus tertentu, pengukuran dampak keuangan dari suatu pos sangat tidak pasti sehingga perusahaan pada umumnya tidak mengakuinya dalam laporan keuangan. Misalnya, meskipun dalam kegiatan usahanya perusahaan dapat me nghasilkan goodwill, tetapi lazimnya sulit untuk mengidentifikasi atau mengukur goodwill secara andal. Namun, dalam kasus lain, pengakuan suatu pos tertentu tetap dianggap relevan dengan mengungkapkan risiko kesalahan sehubungan dengan pengakuan dan pengukurannya.

Substansi Mengungguli Bentuk

Jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan, maka peristiwa tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya. Substansi transaksi atau peristiwa lain tidak selalu konsisten dengan apa yang tampak dari bentuk hukum. Misalnya, suatu perusahaan mungkin menjual suatu aktiva kepada pihak lain dengan cara sedemikian rupa sehingga dokumentasi dimaksudkan untuk memindahkan kepemilikan menurut hukum ke pihak tersebut; namun demikian, mungkin terdapat persetujuaan yang memastikan bahwa perusahaan dapat terus menikmati manfaat ekonomi masa depan yang diwujudkan dalam bentuk aktiva. Dalam keadaan seperti itu, pelaporan penjualan tidak menyajikan dengan jujur transaksi yang dicatat (jika sesungguhnya memang ada transaksi).

Netralitas

Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, dan tidak bergantung pada kebutuhan dan keinginan pihak tertentu. Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan beberapa pihak, sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain yang mempunyai kepentingan yang berlawanan.

Pertimbangan Sehat

Penyusun laporan keuangan ada kalanya menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu, seperti ketertagihan piutang yang diragukan, prakiraan masa manfaat pabrik serta peralatan, dan tuntutan atas jaminan garansi yang mungkin timbul. Ketidakpastian semacam itu diakui dengan mengungkapkan hakekat serta tingkatnya dan dengan menggunakan pertimbangan sehat (prudence) dalam penyusunan laporan keuangan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga aktiva atau penghasilan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban atau beban tidak dinyatakan terlalu rendah. Namun demikian penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan, misalnya, pembentukan cadangan tersembunyi atau penyisihan (provision) berlebihan, dan sengaja menetapkan aktiva atau penghasilan yang lebih rendah atau pencatatan kewajiban atau beban yang lebih tinggi, sehingga laporan keuangan menjadi tak netral, dan karena itu, tidak memiliki kualitas andal.

Kelengkapan

Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas dan biaya. Kesengajaan untuk tidak mengungkapkan (omission) mengakibatkan informasi menjadi tidak benar atau menyesatkan dan karena itu tidak dapat diandalkan dan tidak sempurna ditinjau dari segi relevansi.

Dapat Dibandingkan

Pemakai harus dapat memperbandingkan laporan keuangan perusahaan antar periode untuk mengidentifikasi kecenderungan (trend) posisi dan kinerja keuangan. Pemakai juga harus dapat memperbandingkan laporan keuangan antar perusahaan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan secara relatif. Oleh karena itu, pengukuran dan penyajian dampak keuangan dari transaksi dan peristiwa lain yang serupa harus dilakukan secara konsisten untuk perusahaan tersebut, antar periode perusahaan yang sama dan untuk perusahaan yang berbeda. Implikasi penting dari karakteristik kualitatif dapat diperbandingkan adalah bahwa pemakai harus mendapat informasi tentang kebijakan akuntansi yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan dan perubahan kebijakan serta pengaruh perubahan tersebut. Para pemakai harus dimungkinkan untuk dapat mengidentifikasi perbedaan kebijakan akuntansi yang diberlakukan untuk transaksi serta peristiwa lain yang sama dalam sebuah perusahaan dari satu periode ke periode dan dalam perusahaan yang berbeda. Ketaatan pada standar akuntansi keuangan, termasuk pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan oleh perusahaan, membantu pencapaian daya banding. Kebutuhan terhadap daya banding jangan dikacaukan dengan keseragaman semata-mata dan tidak seharusnya menjadi hambatan dalam memperkenalkan standar akuntansi keuangan yang lebih baik. Perusahaan tidak perlu meneruskan kebijakan akuntansi yang tidak lagi selaras dengan karakteristik kualitatif relevansi dan keandalan. Perusahaan juga tidak perlu mempertahankan suatu kebijakan akuntansi kalau ada alternatif lain yang lebih relevan dan lebih andal. Berhubung pemakai ingin membandingkan posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan antar periode, maka perusahaan perlu menyajikan informasi periode sebelumnya dalam laporan keuangan.

Tepat Waktu

Jika terdapat penundaan yang tidak semestinya dalam pelaporan, maka informasi yang dihasilkan akan kehilangan relevansinya. Manajemen mungkin perlu menyeimbangkan manfaat relatif antara pelaporan tepat waktu dan ketentuan informasi andal. Untuk menyediakan informasi tepat waktu, seringkali perlu melaporkan sebelum seluruh aspek transaksi atau peristiwa lainnya diketahui, sehingga mengurangi keandalan informasi. Sebaliknya, jika pelaporan ditunda sampai seluruh aspek diketahui, informasi yang dihasilkan mungkin sangat andal tetapi kurang bermanfaat bagi pengambil keputusan. Dalam usaha mencapai keseimbangan antara relevansi dan keandalan, kebutuhan pengambil keputusan merupakan pertimbangan yang menentukan.

Keseimbangan antara Biaya dan Manfaat

Keseimbangan antara biaya dan manfaat lebih merupakan kendala yang pervasif daripada karakteristik kualitatif. Manfaat yang dihasilkan informasi seharusnya melebihi biaya penyusunannya. Namun demikian, evaluasi biaya dan manfaat merupakan proses pertimbangan yang substansial. Biaya tersebut juga tidak perlu harus dipikul oleh pemakai informasi yang menikmati manfaat. Manfaat mungkin juga dinikmati oleh pemakai lain disamping mereka yang menjadi tujuan informasi; misalnya, penyediaan informasi lanjutan kepada kreditur mungkin mengurangi biaya pinjaman yang dipikul perusahaan. Karena alasan inilah maka sulit untuk mengaplikasikan uji biaya-manfaat pada kasus tertentu. Namun demikian, komite penyusun standar akuntansi keuangan pada khususnya, seperti juga para penyusun dan pemakai laporan keuangan, harus menyadari kendala ini.

Keseimbangan di antara Karakteristik Kualitatif

Dalam praktek, keseimbangan atau trade-off di antara berbagai karakteristik kualitatif sering diperlukan. Pada umumnya tujuannya adalah untuk mencapai suatu keseimbangan yang tepat di antara berbagai karakteristik untuk memenuhi tujuan laporan keuangan. Kepentingan relatif dari berbagai karakteristik dalam berbagai kasus yang berbeda merupakan masalah pertimbangan profesional.

Penyajian Wajar

Laporan keuangan sering dianggap menggambarkan pandangan yang wajar dari, atau menyajikan dengan wajar, posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan. Meskipun kerangka dasar ini tidak menangani secara langsung konsep tersebut, penerapan karakteristik kualitatif pokok dan standar akuntansi keuangan yang sesuai biasanya menghasilkan laporan keuangan yang menggambarkan apa yang pada umumnya dipahami sebagai suatu pandangan yang wajar dari, atau menyajikan dengan wajar, informasi semacam itu.

C. Pemakai Informasi Akuntasi

Akuntansi bertujuan untuk menghasilkan informasi akauntansi. Informasi tersebut selanjutnya digunakan oleh pihak-pihak ya ng membutuhkannya, atau berkepentingan terhadap perusahaan sebagai dasar untuk menilai dan mengambil keputusan. Pihak-pihak yang berkepentingan tersebut terdiri dari ppihak intern dan pihak ekstern.

Pihak intern adalah pihak yang berhubungan langsung dengan operasi perusahaan sehari-hari, yaitu pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan sangat memerlukan informasi perusahaan karena dial lah yang harus membuat berbagai kebijakan untuk memajukan perusahaan, misalnya menentukan harga pokok, pengalokasian biaya yang efisien, menyususn anggaran yang realistis, menentukan harga jual produk, dan kebijakan-kebijakan lainnya.

Pihak ekstern merupakan pihak yang berkepentingan namun tidak terliba langsung dengan perusahaan dalam membuat keputusan dan kebijakan dalam operasi perusahaan. Pihak ekstern itu antara lain:

· Pemilik perusahaan atau pemegang saham atau investor

Investor adalah pihak yang membiayai perusahaan, oleh karena itu untung dan rugi perusahaan ditanggung oleh pemegang saham. Umumnya para pemegang saham mempercayakan perusahaan kepada manajer-manajer yang professional.

· Karyawan dan serikat pekerja

Meskipun seorang karyawan hanya bekerja berdasarkan perintah dari manajer masing-masing, namun mereka harus tahu informasi akuntansi perusahaan. Gunanya adalah untuk kepastian pekerjaan waktu akan dating. Perusahaan yang akan bangkrut, atau tidak menjanjikan kesejahteraan karyawannya akan tidak mungkin dipertahankan oleh karyawan. Sebaliknya, jika perusahaan dalam keadaan baik atau bahkan dalam keadaan laba besar, maka karyawan dapat menuntut perbaikan gaji.

· Kreditor

Kreditur atau pihak yang memberikan pinjaman perlu memerlukan jaminan bahwa uang yang dipinjamkan terjamin, artinya perusahaan dalam waktu yang telah ditentukan mampu membayar hutangnya beserta bunga yang dikenakan. Oleh karena itu biasanya sebelum memberi pinjaman, kreditur perlu mengetahui laporan keuangan perusahaan untuk memastikan bahwa perusahaan layak untuk diberikan pinjaman.

· Badan-badan pemerintah

Pemerintah berkepentingan dalam perusahaan misalnya dalam hal pajak dan ketenagakerjaan. Dalam hal pajak, berkaitan dengan besarnya pajak penghasilan yang ditanggung oleh perusahaan.

· Pelanggan

Pelanggan dalam hal ini termasuk konsumen dan pemasok. Pemasok misalnya, perlu mengetahui kelancaran perusahaan membayar barang yang dipesannya.

· Masyarakat

Masyarakat terutama masyarakat sekitar perlu mengetahui keaadaan perusahaan dalam hal penyediaan lapangan pekerjaan dan keperluan social lainnya.

D. Bidang-Bidang Akuntasi

Setiap pemakai informasi akuntansi tentu membutuhkan informasi akuntansi yang berbeda-beda. Oleh karena itu dibuat bidang-bidang akuntansi antara lain:

1. Akuntansi keuangan, merupakan bagian dari akuntansi yang mengkhususkan diri dalam proses pencatatan transaksi hingga penyajian laporan keuangan.

2. Auditing, yaitu bidang akuntansi yang mengkhususkan memeriksa catatan akuntansi secara independen.

3. Akuntansi biaya, merupakan bidang akuntansi yang memiliki objek biaya produksi, sehingga bidang ini berhubungan dengan perencanaan penetapan, dan pengendalian biaya produksi.

4. Akuntansi manajemen berhubungan dengan pengembangan, penafsiran, dan penyusunan rencana agar perusahaan dapat berjalan secara efektif dan efisien.

5. Akuntansi anggaran merupakan bagian dari akuntansi manajemen yang menyusun rencana pengeluaran perusahaan dan membandingkan dengan pengeluaran aktual.

6. Akuntansi perpajakan, mengkhususkan diri dalam hal perpajakan agar pajak yang dikeluarkan perusahaan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

7. Sistem akuntansi adalah bidang akuntansi yang menkhususkan diri dalam hal perencanaan dan pelaksanaan prosedur pengumpulan, serta pelaporan data keuangan. Akuntansi, dalam hal ini harus menciptakan satu cara sedemikian rupa sehingga mempermudah pengendalian intern dan menciptakan arus laporan yang tepat untuk kepentingan manajemen.

8. Akuntansi pemerintahan, mengkhususkan diri dalam penyajian transaksi yang dilakukan pemerintah.

9. Akuntansi pendidikan, berhubungan dengan pengmbangan dan penyebaran pendidikan akuntansi.

E. Bidang Profesi Akuntansi

sebelum mempelajari akuntansi, kita perlu mengetahui menfaat mempelajari akuntansi. Salah satunya adalah manfaat yang diberikan dalam hal berkarir. Karir atau profesi akuntansi sangatlah luas, antara lain:

a. Akuntan perusahaan (intern)

Adalah akuntan yang bekerja dalam perusahaan dan bertanggung jawab atas keuangan perusahaan. Akuntan dalam perusahaan juga mengontrol transaksi-transaksi dalam perusahaan dan membuat laporan akuntansi.

b. Akuntan publik

Yaitu akuntan independen yang menyediakan jasa kepada perusahaan atau organisasi bisnis atau nonbisnis. Jasa akuntan publik antara lain jasa pemeriksaan, yaitu memeriksa apakah laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi atau tidak ada penyimpangan dalam penyajian. Selain itu jasa akuntan publik adalah jasa konsultasi dalam bidang perpajakan, penyusunan laporan keuangan, dan lain-lain.

c. Akuntan pemerintah

Adalah akuntan yang bekerja pada lembaga-lembaga pemerintah yang bertugas merencanakan, mengendalikan, dan memeriksa penggunaan kekayaan negara. Contohnya adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Direktorat Akuntan Negara Departemen Keuangan.

d. Akuntan pendidik

Tugas utamanya adalah mengajarkan dan mengembangakan akuntasi, misalnya guru dan dosen akuntansi.

F. Etika Profesi Akuntansi

Akuntansi haruslah memberikan laporan atau informasi yang benar dan dapat dipercaya. Oleh karena itu pelaku kauntansi haruslah memilliki kejujuran dalam meberikan informasi. Profesi akuntansi juga memiliki etika-etika yang harus dimiliki dan dilaksanakan oleh akuntan. Ada tiga prinsip dasar perilaku yang etis:

1. Hindari pelanggaran etika.

2. Pusatkan perhatian terhadap reputasi jangka panjang.

3. Bersiaplah menghadapi konsekuensi yang tidak menyenangkan bila setelah berpegang teguh pada perilaku etis. Hal ini merupakan tantanga yang berat yang menggoyahkan akuntan keluar dari etika dan tidak profesional. Ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan sudah pasti ada disetiap pekerjaan, namun reputasi lah yang palling penting.

Jadi intinya adalah informasi yang diberikan adalah informasi yang sebenarnya. Untuk itu indonesia juga memiliki aturan sendiri dalam penyedian informasi itu. Aturan-aturan akuntansi itu yaitu Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berisikan perinsip, prosedur, teknik, metode dalam penyususnan laporan keuangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar