Jumat, 20 Mei 2011

Analisa Sumber dan Penggunaan Modal Kerja


Pengertian Modal Kerja

Sebelum memahami apa itu modal kerja, maka ada baiknya terlebih dahulu kita mengetahui apa yang dimaksud dengan dana atau fund. Dalam melaporakan sumber dan penggunaan dana sering terdapat perbedaan pendapat tentang pengertian dana atau fund. Pengertian yang pertama diartikan sebagai “modal kerja”, dengan demikian laporan sumber dan penggunaan dana menggambarkan satu ringkasan sumber dan penggunaan modal kerja dan perubahan unsur-unsur modal kerja selama periode yang bersangkutan. Pengertian yang kedua, dana diartikan sebagai kas. Pengertian lain adalah sebagai net monetary assets, yaitu kas dan aktiva-aktiva lain yang mempunyai sifat sama dengan kas. Bahkan ada yang mengartikan dana adalah sebagai seluruh aset yang dimiliki oleh perusahaan.

Karena banyaknya perbedaan pengertian dana, oleh karena itu kita akan membahas sumber dan penggunaan modal kerja serta sumber dan penggunaan kas.

Ada tiga konsep atau definisi modal kerja yang umum dipergunakan, yaitu:

1. Konsep kuantitatif

Modal kerja menurut konsep kwalitatif menggambarkan keseluruhan atau jumlah dari aktiva lancar seperti kas, surat-surat berharga, piutang persediaan atau keseluruhan dari pada jumlah aktiva lancar dimana aktiva lancar ini sekali berputar dan dapat kembali ke bentuk semula atau dana tersebut dapat bebas lagi dalam waktu yang relatif pendek atau singkat . Konsep ini biasanya disebut modal kerja bruto (gross working capital).

Berdasarkan konsep tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa konsep tersebut hanya menunjukkan jumlah dari modal kerja yang digunakan untuk menjalankan kegiatan operasi perusahaan sehari-hari yang sifatnya rutin, dengan tidak mempersoalkan dari mana diperoleh modal kerja tersebut, apakah dari pemilik hutang jangka panjang ataupun hutang jangka pendek.

Modal kerja yang besar belum tentu menggambarkan batas keamanan atau margin of safety yang baik atau tingkat keamanan para kreditur jangka pendek yang tinggi. Jumlah modal kerja yang besar belum tentu menggambarkan likuiditas perusahaan yang baik sekaligus belum tentu menggambarkan jaminan kelangsungan operasi perusahaan pada periode berikutnya.

2. Konsep kualitatif

Menurut konsep kwalitatif modal kerja merupakan selisi antara aktiva lancar diatas hutang lancar. Modal kerja ini merupakan sebahagian dari aktiva lancar yang benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahan tanpa menunggu likuiditasnya. Konsep ini biasa disebut dengan modal kerja netto (net working capital). Defenisi ini bersifat kwalitatif karena menunjukkan tersedianya aktiva lancar yang lebih besar dari pada hutang lancar dan menunjukkan tingkat keamanan bagi kreditur jangka pendek serta menjamin kelangsungan operasi di mana mendatang dan kemampuan perusahaan untuk memperoleh tambahan jangka pendek dengan jaminan aktiva lancar.

3. Konsep fungsionil

Modal kerja menurut konsep ini menitikberatkan pada fungsi dari pada dana dalam menghasilkan pendapatan (income) dari usaha pokok perusahaan. Setiap dana yang digunakan dalam perusahaan dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan. Ada sebagian dana yang digunakan dalam satu periode akuntansi tertentu yang menghasilkan pendapatan pada periode tersebut. Sementara itu, ada pula dana yang dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan pada periode-periode selanjutnya atau dimasa yang akan datang, misalnya bangunan, mesin-mesin, alat-alat kantor dan aktiva tetap lainnya yang disebut future income. Jadi modal kerja menurut konsep ini adalah dana yang digunakan untuk menghasilkan pendapatan pada saat ini sesuai dengan maksud utama didirikannya perusahaan.

Dalam pembahasan selanjutnya modal kerja berarti net working atau kelebihan aktiva lancar dikurang utang lancar, sedangkan untuk modal kerja sebagai jumlah aktiva lancar digunakan istilah modal kerja bruto atau gross working capital.

Pentingnya Modal Kerja

Pengendalian jumlah modal kerja yang tepat akan menjamin kontinuitas operasi dari perusahaan secara efisien dan ekonomis. Bilamana modal kerja terlalu besar, maka dana yang tertanam dalam modal kerja melebihi kebutuhan. Padahal dana itu sendiri sebenarnya dapat digunakan untuk keperluan lain dalam rangka peningkatan laba. Tetapi bilamana modal kerja terlalu kecil atau kurang, maka perusahaan akan kurang mampu memenuhi permintaan langganan seperti membeli bahan mentah, membayar gaji pegawai dan upah buruh ataupun kewajiban-kewajiban lainnya yang segera harus dilunasi.

Dengan demikian kebaikan dan keburukan modal kerja dalam perusahaan dapat dilihat sebagai berikut :

a. Kelebihan atas modal kerja mengakibatkan kemampuan laba menurun sebagai akibat lambatnya perputaran dana perusahan.

b. Menimbulkan kesan bahwa manajemen tidak mampu mengunakan modal kerja secara efisien.

c. Kalau Modal kerja tersebut dipinjam dari bank maka perusahaan mengalami kerugian dalam membayar bunga.

Jadi modal kerja harus cukup jumlahnya dalam arti arus mampu membiayai pengeluaran-pengeluaran atau operasi perusahaan sehari-hari, karena dengan modal kerja yang cukup akan menguntungkan bagi perusahaan, di samping memungkinkan perusahaan beroperasi secara ekonomis atau efisien dan perusahaan tidak mengalami kesulitan keuangan, juga akan memberikan keuntungan lain, antara lain;

a. Melindungi perusahaan dari krisis modal kerja karena turunnya nilai dari aktiva lancar,

b. Memungkinkan untuk dapat membayar semua kewajiban tepat pada waktunya,

c. Menjamin dimilikinya kredit standing perusahaan semakin besar dan memungkinkan bagi perusahaan untuk dapat menghadapi bahaya-bahaya atau kesulitan keunagan yang mungkin terjadi,

d. Memungkinkan untuk memiliki persediaan dalam jumlah yang cukup untuk melayani para konsumen,

e. Memungkinkan bagi perusahaan untuk memberikan syarat kredit yang lebih menguntungkan kepada para pelanggan,

f. Memungkinkan perusahaan untuk beroperasi dengan lebih efisien karena tidak ada kesulitan untuk memperoleh barang ataupun jasa yang dibutuhkan.

Untuk menentukan jumlah modal kerja yang dianggap cukup bagi seluruh perusahaan bukanlah hal yang mudah, karena modal kerja yang dibutuhkan oleh suatu perusahaan tergantung atau dipengaruhi oleh beberapa factor sebagai berikut:

1. Sifat atau tipe dari perusahaan

Perusahaan jasa, dagang dan perusahaan manufaktur pasti memmerlukan modal yang berbeda-beda. Perusahaan jasa membutuhkan modal lebih sedikit bila dibandingkan dengan perusahaan manufaktur. Kebutuhan uang tunai untuk membiayai tenaga kerja, persediaan dan biaya yang lainnya pasti berbeda-beda.

2. Waktu yang dibutuhkan untuk memprodusir atau memperoleh barang yang akan dijual serta harga persatuan dari barang tersebut

Semakin panjang waktu yang dibutuhkan untuk memproduksi atau untuk memperoleh barang tersebut akan mempengarhi modal yang diperlukan. Di samping itu harga pokok persatuan juga akan mempengaruhi besar kecilnya modal yang diperlukan. Contohnya, perusahaan mobil lebih membutuhkan waktu produksi yang lebih panjang dibandingkan dengan perusahaan meubel, harga pokok masingmasing produk juga berbeda sehingga kebutuhan modal perusahaan mobil lebih tianggi dari perusahaan meubel.

3. Syarat pembelian bahan atau barang dagangan

Jika syarat kredit yang diterima pada waktu pembelian menguntungkan, makin sedikit uang kas yang harus diinvestasikan untuk persediaan bahan atau barang dagangan. Jika pembayaran harus dilakukan dalam jangka waktu yang pendek maka uang kas yang diperlukan untuk membiayai persediaan semaki besar.

4. Syarat penjualan

Semakin lunak kredit yang diberikan oleh perusahaan kepada pembeli akan mengakibatkan semakin besarnya jumlah modal kerja yang diinvestasikan untuk sector pihutang. Untuk memperkecil alokasi modal untuk piutang tersebut dan untuk memperkecil risiko adanya piutang yang tidak dapat tertagih, maka sebaiknya perusahaan memberikan potongan tunai untuk kepada para pembeli agar para pembeli tertarik untuk segera membayarnya. Misalnya memberikan diskon untuk pembelian tunai atau memberikan syarat pembayaran dengan potongan, misalnya 5/10, 3/15, 2/30, n/60 (sesuai kebijakan perusahaan).

5. Tingkat perputaran persediaan

Semakin tinggi tingkat perputaran persediaan maka semakin rendah modal kerja yang dibutuhkan. Hal ini terjadi kerna menghemat ongkos penyimpanan dan pemeliharaan persediaan.

Selain factor-faktor terseut diatas, masih banyak factor lain yang mempengaruhi kebutuhan modal, misalnya factor musiman, volume penjualan, tingkat perputaran piutang, dan jumlah rata-rata pengeluaran uang setiap harinya.

Sumber Modal Kerja

Pada dasarnya modal kerja bersifat sangat fleksibel yang berarti bahwa modal kerja dapat dengan mudah diperbesar ataupun diperkecil, sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Sebagai sebuah subsistem, perusahaan tidak dapat terlepas dari system perekonomian pada umunya. Oleh karena itu kondisi perekonomian sangat mempengaruhi jumlah kebutuhan akan modal kerja yang dioperasikan.

Disamping itu masing-masing perusahaan memiliki tipe modal kerja sendirisendiri sesuai dengan jenis bidang usaha maupun levelnya masing-masing. Tipe modal kerja perusahaan dapat dipengaruhi, misalnya memiliki sifat musiman atau konstan setiap saat. Bagi perusahaan yang memiliki musim penjualan, dengan sendirinya akan membutuhkan modal kerja relatif lebih besar dari masa tidak musim. Jadi, tipe-tipe tersebut juga mengakibatkan penentuan sumbersumber dana yang akan dipergunakan atau yang akan dioperasikan.

Pada umumnya tipe modal kerja berdasarkan sifat bekerjanya dapat digolongkan sebagai berikut:

1. Modal kerja permanen (Permanen Working Capital) yaitu modal kerja yang harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya atau dengan kata lain modal kerja yang secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha. Permanen Working Capital ini dapat dibedakan dalam :

Ø Modal kerja primer (Primary Working Capital) yaitu jumlah modal kerja minimum yang harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.

Ø Modal kerja normal (Normal Working Capital) yaitu jumlah modal kerja yang diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal.

2. Modal kerja variabel (Variabel Working Capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perobahan keadaan, dan modal kerja ini dibedakan antara :

Ø Modal kerja musiman (Seasonal Working Capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya berobah-obah disebabkan karena fluktuasi musim.

Ø Modal kerja siklis (Cyclical Working Capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya berobah-obah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.

Ø Modal kerja darurat (Emergency Working Capital) yaitu modal kerja yang besarnya berubahubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui sebelumnya (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perobahan keadaan ekonomi yang mendadak).

Modal kerja dapat dibiayai dengan modal sendiri, hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang. Sistem pembelanjaan yang akan dipilih haruslah didasarkan pada pertimbngan mengenai laba dan resiko. Untuk memenuhi kebutuhan modal kerja, sebaiknya dibiayai dengan modal yang seminimal mungkin. Akan tetapi agar perputaran modal perusahaan dapat ditingkatkan seringkali perusahaan harus mencari dana dari luar luna menutup kebutuhan modal kerja.

Kebutuhan modal kerja permanen sebaiknya dibiayai dengan modal sendiri. Semakin besar jumlah modal sendiri maka akan semakin baik bagi perusahaan karena akan semakin besar kemampuan perusahaan untuk memperoleh kredit dan semakin besar jaminan bagi kreditur jangka pendek. Disamping itu kebutuhan modal kerja yang permanen dapat juga dibiayai dengan penjualan obligasi atau jenis hutang jangka panjang lainnya, tetapi dalam hal ini perusahaan harus mempertimbangkan jatuh tempo dari hutang jangka panjang tersebut dan beban bunga yang harus dibayar oleh perusahaan. Sedangkan modal kerja variable dapat dibiayai dengan hutang jangka pendek yang jangka waktunya tidak lebih dari pada kebutuhan modal kerja.

Pada umunya sumber modal kerja suatu perusahaan dapat berasal dari :

1. Hasil operasi perusahaan

Jumlah net income yang nampak dalam laporan perhitungan rugi laba ditambah dengan depresiasi dan amortisasi, jumlah ini menunjukkan jumlah modal kerja yang berasal dari hasil operasi perusahaan. Jadi modal kerja yang berasal hasil operasi perusahaan dapat dihitung dengan menganalsa laporan perhitungan rugi laba. Dengan adanya keuntungan atau laba, dan apabila laba tersebut tidak diambil oleh perusahaan maka laba tersebut akan menambah modal perusahaan.

Pos-pos laporan Laba Rugi

Pengaruhnya terhadap Modal Kerja

Penjualan Rp 500.000,-

Harga Pokok Penjualan 350.000,-

Laba Bruto 150.000,-

Dikurangi:

Penyusutan Rp 10.000

Amortisasi Diskonto Obl 1.000

Amortisasi Hak Paten 1.500

Biaya Usaha Lainnya 90.000

Biaya Lain-Lain dikurangi:

Hasil Lain-Lain 5.000

Pajak Perseroan 5.000

Rp 112.500,-

Pendapatan bersih Rp 37.500,-

Menambah

Mengurangi

Menambah

Tidak berpengaruh

Tidak berpengaruh

Tidak berpengaruh

Tidak berpengaruh

Mengurangi

Mengurangi

Menambah ( Rp 50.000)*

*NB: analisis penambahan modal kerja sebesar Rp 50.000,- adalah sebagai berikut:

Penambahan modal kerja bruto dari penjualan Rp 500.000,-

Pengurangan modal kerja dari Hpp 350.000,-

150.000,-

Biaya usaha Rp 90.000

Biaya lain_lain diatas hasil lain-lain 5.000

Pajak Perseroan 5.000

100.000,-

Pertambahan modal kerja 50.000,-

Perhitungan yang biasa dilakukan adalah

Pendapatan bersih 37.500

Pos-pos non cash ( penyusutan dan amortisasi) 12.500

Pendapatan modal kerja 50.000

2. Keuntungan dari penjualan surat-surat berharga

Surat berharga yang dimiliki perusahaan untuk jangka pendek adalah salah satu elemen aktiva lancar yang segera dapat dijual dan akan menimbulkan keuntungan bagi perusahaan. Dengan adanya penjualan surat berharga akan menyebabkan terjadinya perubahan dalam unsure modal kerja yaitu dari bentuk surat berharga berubah menjadi uang kas. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan surat berharga ini merupakan suatu sumber untuk bertambahnya modal kerja, sebaliknya apabila penjualan tersebut terjadi kerugian maka akan menyebabkan berkurangnya modal kerja. Apabila effek atau investasi jangka pendek itu dijual dengan harga jual yang sama dengan harga perolehanya (tanpa laba ataupun rugi), maka penjualan effek-effek tersebut tidaka akan mempengaruhi modal kerja (modal kerja tidak bertambah atau tidak berkurang). Dalam menganalisa sumber-sumber modal kerja maka sumber yangberasal dari keuntungan penjualan surat berharga harus dipisahkan denagn modal kerja yang berasal dari hasil usaha pokok perusahaan.

3. Penjualan aktiva tidak lancar

Penjulan ini akan mengubah aktiva tetap menjadi kas atau piutang yang akan menyebabkan bertambahnya modal kerja sebesar hasil dari penjualan tersebut. Apabila dari hasil penjualan aktiva tetap atau aktiva tidak lancar tidak digunakann untuk mengganti aktiva yang bersangkutan akan mengakibatkan keadaan aktiva lancar sedemikian besarnya sehingga melebihi modal kerja yang dibutuhkan (adanya modala kerja yang berleihan).

4. Penjualan saham atau obligasi

Untuk menambah dana atau modal kerja, perusahaan dapat mengadakan emisi saham baru atau meminta kepada pemilik perusahaan untuk menambah modalnya, disamping itu perusahaan dapat uga mengeluarkan obligasi atau bentuk hutang jangka panjang lainnya guna memenuhi kebutuhan modal kerjanya. Penjualan obligasi mempunyai konsekuensi bahwa perusahaan harus membayar bunga tetap, oleh karena itu dalam mengeluarkan hutang obligasi harus disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Penjualan obligasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan (terlalu besar) akan menimbulkan beban bunga yang besar, dan juga akan mengakibatkan keadaan aktiva lancar yang besar sehingga melebihi jumlah modal kerja yang dibutuhkan.

Turunnya modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan. Misalnya penggunaan aktiva lancar untuk melunasi atau membayar utang lancar, maka penggunaan aktiva lancar ini tidak mengakibatkan penuruna modal kerja karena penurunan aktiva lancar tersebut diikuti atau diimbangi dengan penurunaan utang lancar dalam jumlah yang sama.

Penggunaan modal kerja

Pemakaian atau penggunaan modal kerja akan menyebabkan perubahan bentuk maupun penurunan jumlah aktiva lancar yang dimiliki oleh pereusahaan, tetapi penggunaan aktiva lancar tidak selalu diikuti dengan berubahnya atau turunnya jumlah modal kerja yang dimiliki oleh perusahaan. Misalnya, penggunaan aktiva lancar untuk melunasi atau membayari hutang lancar, maka penggunaan aktiva lancar ini tidak mengakibatkan penurunan jumlah modal kerja karena penurunan aktiva lancar tersebut diikuti atau diimbangi denan penurunan hutang lancar dalam jumlah yang sama.

Penggunaan-penggunaan aktiva lancar yang mengakibatkan turunnya modal kerja adalah sebagai berikut:

a. Pembayaran biaya atau ongkos-ongkos operasi perusahaan, meliputi pembayaran upah, gaji, pembelian bahan atau barang dagangan, supplies kantor dan pembayaran biaya-biaya lainnya.

b. Kerugian-kerugian yang diderita oleh perusahaan karena adanya penjualan surat berharga atau effek, maupun kerugian yang insidentil lainnya.

c. Adanya pembentukan dana atau pemisahan aktiva lancar untuk tujuan-tujuan tertentu dalam jangaka panjang, misalnya Dana Pelunasan Obligasi, Dana pensiun Pegawai, Dana Expansi ataupun dana lainnya, sehingga mengakibatkan perubahan bentuk aktiva dari aktiva lancar menjadi aktiva tetap.

d. Adanya penambahan atau pembelian aktiva tetap, investasi jangka panjang atau aktiva tidak lancar lainnya yang mengakibatkan berkurangnya aktiva lancar atau timbulnya hutang lancar yang berakibat berkurangnya modal kerja.

e. Pembayaran hutang jangka panjang yang meliputi hutang hipotik, hutang obligasi maupun bentuk hutang jangka panjang lainnya, serata penarikan atau pembelian kembali saham perusahaan yang beredar, atau adanaya penurunan huatang jangka panjang diimbangi berkurangnya aktiva lancar.

f. Pengambialan uang atau barang dagangan oleh pemilik perusahaan untuk kepemtingan pribadinya(prive) atau adanya pengambilan bagaian keuntungan oleh pemilik dalam perusahaan perseorangan dan persekutuan atau adanya pembayaran deviden dalam perseroan terbatas.

Disamping pengguanaan aktiva lancar yang mengakibatkan berkurangnya modal kerja tersebut, adapula pemakaian aktiva lancar yang tudak merubah jumlahnya baik modal kerjanya maupun jumlah aktiva lancarnya iti sendiri, yaitu pemakaian atau penggunaan modal kerja/aktiva lancar yang hanya menyebabkan atau mengakibatkan brubahnya bentuk aktiva lancar(modal kerrja tidak berkurang), misalnya:

a. Pembelian effek secara tunai.

b. Pembelian barang dagangan atau bahan-bahan lainnya secara tunai.

c. Perubahan suatu bentuk piutang ke bentik piutang lainnya, misalnya dari piutang dagangan menjadi piutang wesel.

Apabila didasarkan pada data neraca, perubahan modal kerja (modal kerja netto) pada prinsipnya karena pengaruh dari perubahan unsure-unsur rekening tidak lancar (noncurrent account).

Perubahan unsure-unsur rekening tidak lancar yang mempunyai pengaruh memperbesar modal kerja (netto) adalah:

1. Berkurangnya aktiva tidak lancar,

2. Berubahnya utang jangka panjang,

3. Berubahnya modal saham,

4. Adanya keuntungan dari operasi perusahaan.

Laporan Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Laporan keuangan yang disusun secara periodik dan analisis laporan keuangan yang telah diperbandingkan dan dilengkapi dengan laporan khusus yang meringkaskan perubahan modal kerja selama periode fiskal. Laporan ini dikenal sebagai sources and uses of funds statement, flow of funds statement, statement of application of funds, funds statement, sources and application of funds statement, statement of financial benifed earned and employeed, statement of financial changes, atau where-got where-gone statement.

Tujuan dari analisis penggunaan modal kerja adalah untuk memberikan ringkasan transaksi keuangan yang terjadi selama satu periode dengan menunjukkan sumber dan penggunaan modal kerja selama periode tersebut. Informasi tenteng sumber dan penggunaan modal kerja sangat penting tidak hany bagi manajemen perusahaan, tetapi juga para kreditor, karena dengan mengetahui sumber dan penggunaan modal kerja perusahaan yang bersangkutan akan dapat digunakan sebagai dasar penelitian kebijakan manajemen dalam mengelola modal kerja dan dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh para kreditur.

Laporan sumber dan penggunaan modal kerja berguna untuk memberikan jawaban atas pertanyaan yang muungkin timbul bagi pihak manajemen dan pemegang saham, misalnya:

1. Apa yang menyebabkan perubahan posisi modal kerja?

2. Berapa banyak modal kerja yang berasal dari keuntungan dan bagaimana keuntungan itu didistribusikan?

3. Berapa banyak modal kerja yang berasal dari pinjaman jangka panjang dan berapa banyak yang berasal dari penjulan saham dan bagaimana penggunaan dana-dana tersebut?

4. Apakah perusahaan telah menjual sebagian aktiva tidak lancarnya? Apabila “ya” bagaimana penggunaan hasil penjualan tersebut?

5. Berapakah modal kerja yang digunakan untuk menambah kekayaan jangka panjang (aktiva tidak lancar) atau bagaimana perusahaan membiayai ekspansinya?

6. Bagianakah perusahaan menggunakan dana yang diperoleh dari hasil operasinya? Berapakah yang dibayarkan kepada pemilik perusahaan dalam bentuk deviden?

Dalam menyusun sumber dan penggunaan modal kerja ada dua metode yang dapat digunakan yaitu:

1. Direct method

Dikenal juga dengan metode rekening. Dalam metode ini tiap-tiap perubahan biaya tidak tetap dicatat dalam masing-masing rekening bentuk T, termasuk perubahan modal kerja, laba rugi, serta sumber dan penggunaan modal kerja. Kemudian urnal transaksi-transaksi diposting ke pos masing-masing

2. Reserval method

Dalam metode ini laporan penggunaan sumber dan penggunaan odal kerja menggunakan kertas kerja (work sheet). Metode ini dapat dilakukan apabila kita mengalami kesulitan dalam menghadapi laporan yang jumlah posnya banyak, sehingga unt mengindari kesulitan ini maka sebelum menyusun laporan perubahan modal kerja perlu dibuat terlebih dahulu suatu kertas kerja. Dalam kertas kerja ini perubahan yang terjadi masing-masing pos dianalisis dan ditentukan baaimana pengaruh perubahan pos tersebut pada kertas kerja.

Untuk dapat menganalisa dan mengetahui besarnya peubahan modal kerja baik secara total maupun masing-masing pos unsur modal kerja, serta untu mengetahui sumber dan penggunaan modal kerja selama periode yang bersangkuatan, maka diperlukan data tentang neraca yang diperbandingkan antara dua saat/periode tertentu.

Contoh laporan sumber dan penggunaan modal kerja PT. SSS (1998-1999)

Pos-pos neraca

31 Desember

perubahan

1998

1999

Kas

Pitang dagang

Persediaan

Persekot biaya

Tanah

Gedung

Peralatan kantor

Jumlah aktiva

Cadanngan pny aktiva tetap

Hutang dagang

Hutang wesel

Hutang gaji

Hutang obligasi

Modal saham

Laba ditahan

Jumlah hutang + Modal

Rp 1.163.500

3.793.500

2.676.500

738.500

600.000

4.800.000

2.100.000

Rp 1.543.500

3.984.500

3.110.000

925.500

815.500

3.600.000

2.450.000

380.000

11.000

433.500

187.000

215.500

(1.200.000)

350.000

16.052.000

775.000

1.965.500

1.095.000

1.353.500

3.860.000

4.450.000

2.553.000

16.419.000

1.110.000

2.418.500

800.500

1.530.000

2.425.800

5.015.000

3.129.000

377.000

335.000

453.000

(294.500)

176.700

(1.434.200)

565.000

576.000

16.052.000

16.419.000

377.000


Apabbila tidak ditemui data lainnya maka berdasarkan data neraca yang dibandingkan tersebut dapat disusun laporan perubahan modal kerja sebagai berikut:

Contoh laporan perubahan modal kerja PT. SSS tahun 1999

Pos-pos neraca

31 Desember

Modal kerja

1998

1999

Sumber

Penggunaan

Kas

Pitang dagang

Persediaan

Persekot biaya

Hutang dagang

Hutang wesel

Hutang gaji

Jumlah

Tambahan modal kerja

1.163.500

3.973.500

2.676.500

738.500

1.965.500

1.095.000

1.353.500

1.543.500

3.984.500

3.110.000

925.500

2.418.500

800.500

1.530.000

380.000

11.000

433.500

187.000

294.500

1.306.000

453.000

176.700

629.700

676.300




1.306.000

1.306.000

Selanjutnya menyusun laporan sumber dan penggunaan modal kerja yang memuat transaksi-transaksi tidak lancar (non current account)

PT. SSS contoh laporan sumber dan penggunaan modal

Sumber

Laba ditahan Rp 576.000,-

Cad. peny. aktiva tetap 335.000,-

Modal saham 565.000,-

Jumlah 2.676.000,-


2.676.000,-

Pengeluaran

Pembelian tanah Rp 215.500,-

Pembelian alat kantor 350.000,-

Pembayaran utang obligasi 1.434.200,-

Jumlah 1.999.700,-

Tambahan modal kerja 676.300,-

2.676.000,-

Daftar Pustaka

Jumingan, 2005. Analisis Laporan Keuangan. Surakarta: Bumi Aksara.

Munawir, 2007. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.

Syahyunan, 18 April 2010. Analisis Modal Kerja. www. library.usu.ac.id


Tugas kelompok: Analisis Laporan Keuangan

Analisa Sumber dan Penggunaan Modal Kerja

Disusun oleh kelompok III:

Agus Trihatin (708310003)

Ahmad Tahyudin (708310009)

Kiki Rezeki Siregar (708310075)

Lasmini Yudirma (708310077)

Supriatin (708310154)

JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar